Pukul 21.45 malam hari, aku baru saja menyelesaikan tugas bahasa inggris yang akan dikumpulkan besok. Lelah rasanya. Kurenggangkan otot-ototku kemudian berbaring di tempat tidur. Aku mengambil handphone kemudian membuka akun facebook. Kudapati satu pesan pada kotak masuk yang berisi;
“yonex-sunrise kejuaraan nasional PBSI 2010 akan digelar di Makassar tanggal 24-28 November 2010”...
“yeaahh”. Teriakku usai membaca pesan tesebut sambil bangun dan melompat-lompat.
Ini adalah kesempatan emas dimana aku bisa bertemu dengan sang idolaku Vita Marissa, tidak akan kusia-siakan. Aku harus pergi menyaksikan kejuaraan ini. Langkah awal kulakukan untuk mewujudkan rencana itu dengan menyisihkan uang saku. Sebelumnya aku mengumpulkan uang untuk bisa menonton Indonesian Open 2011 nanti. Tetapi tak perlu jauh-jauh ke Jakarta, Makassar pun aku bisa bertemu Vita pada kejuaraan nasional nanti.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kejuaraan nasional sebentar lagi digelar yakni satu minggu lagi. Meraih impian tidak selamanya berjalan dengan mulus. Ada saja penghalang. Berbagai hal aku lakukan demi mendapat ijin dari orang tua untuk berangkat ke Makassar menyaksikan kejuaraan itu. Namun tetap saja mereka tidak memberi ijin dengan alasan rencanaku ini tidak begitu penting, Mereka tidak bisa mengerti kalo bagiku ini sangat penting. Ditambah lagi dengan ulangan-ulangan harian di sekolah yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan. Sekarang aku harus memilih antara dua pilihan , tidak atau pergi. Jika aku pergi bagaimana dengan ulanganku.
“Apakah aku akan mengikuti ulangan susulan sementara semester akhir tinggal beberapa hari lagi?. tentu semuanya akan terlambat dengan alasan persiapan semester. Namun di lain hal, apakah usaha dan harapanku selama ini harus terhenti sampai di sini saja tanpa hasil?. Tentu tidak ada yang bisa membayar berjuta-juta penyesalan yang akan kurasakan nantinya”. Pikirku. Aku semakin bingung dengan semua ini.
Kalender menunjukkan sekarang tanggal 24 November, Kejuaraan Nasional di Makassar akhirnya dimulai juga. Satu hari berlalu, aku pun belum mempunyai pilihan pasti. Pagi itu aku berangkat ke sekolah diantar oleh bapak. Sebelum memasuki gerbang sekolah, permintaan Ini terakhir aku sampaikan kepada papa . “ pa, nanti pulang dari kantor ambilkan tiket bus buat berangkat ke makassar ya. Harus!!”. Pintahku yang secara to the point aku lontarkan kepada bapak. Aku memasuki halaman sekolah dengan langkah tak tentu. Aku tak punya pilihan lagi. aku yakin bapak tidak mungkin mengijinkanku pergi. Selama proses pembelajaran berlangsung, pikiranku terus melayang membayangkan bagaimana serunya pertandingan, teman-teman yang sementara meminta foto bersama dan tanda tangan atlet. Huggghhhhh...Ingin rasanya berteriak sepuas-puasnya menuntaskan kekesalanku.
Dan akhirnya Tuhan membukakan jalan bagiku. Dari luar kelas teman-teman tampak sangat senang karena hari Sabtu besok siswa-siswa sekolah kami diliburkan sehubungan dengan upacara PGRI.
“akhirnya”. Teriakku spontan saat ibadah tengah berlangsung.
Perasaanku sudah legah dan tekadku bulat untuk pergi. kesempatan yang tidak akan kusia-siakan. Namun yang menjadi masalah lagi, apakah bapak benar-benar akan mengambilkan tiket bus. Aku menunggu bapak pulang dari kantor dan memastikan tiket tersebut. Tak lama kemudian, bapak pulang dan menyuruhku berkemas. Sulit untuk percaya aku mendapat lampu hijau dari bapak untuk pergi, padahal ia tidak begitu mementingkan itu...
Pukul 18.30 bus datang menjemputku untuk berangkat. Sesungguhnya aku sangat berat meninggalkan rumah, dimana mama sedang dalam keadaan sakit. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar semuanya akan baik-baik saja. Perasaan takut dan cemas kian menghampiriku dalam perjalanan, ini adalah kali pertama aku pergi tanpa ada yang menemani. Hanya bermodalkan kenekatan.
Di saat semua penumpang bus tertidur, aku melawan ketakutan dengan memandangi bulan dari luar kaca dan membayangkan Vita adalah matahari yang malam belum terlihat namun tetap memantulkan sinar cahayanya terhadap bulan. Memang sekarang Vita belum ada di depan mataku, namun aku membayangkan saat-saat indah aku bertemu dengan Vita Marissa besok. “Huhhw.. pasti menyenangkan”. Kataku dalam hati.
Pagi itu aku sangat bersemangat menyambut hari Sabtu tanggal 27 November, hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Franda, kakakku menganjak untuk pergi menjenguk sepupu yang sedang sakit. Aku setuju-setuju saja karena menurut informasi yang aku dapat pertandingannya berlangsung sampai malam. Hari mulai senja, kami bergegas pulang untuk bersiap-siap menuju GOR Sudiang tempat kejuaraan Nasional digelar. Tiba-tiba seorang bertubuh tinggi besar dengan kaca mata minesnya berdiri di depan pintu pagar rumah. Ternyata Paman Rio yang datang. Dia adalah adik ipar mama. Paman mengajak bercerita seputar keadaan keluarga di Toraja. Tentu saja sangat membuatku gelisah. Seorang teman yang aku kenal di dunia maya mengirimkan pesan singkat yang berisi:
“chel, kamu udah ada di GOR ? kak Vita lagi main tuh”
Perasaanku mulai tidak tenang. Hatiku menggebu-gebu untuk segera pergi ke GOR dan bertemu dengan pujaanku, Vita. Aku memanggil Franda untuk segera berpamitan dengan paman, daripada usahaku selama ini sia-sia hanya karena paman. Hahahhaah.....
Baru saja sampai di pintu gerbang, satu per satu orang beranjak meninggalkan GOR . Mereka bilang pertandingan hari ini telah selesai. Aku tidak percaya. Bagaimana tidak, yang aku tahu pertandingannya berlangsung sampai malam, sementara ini baru pukul 16.30 . Aku mendapati seorang panitia dan dia mengatakan hal yang sama. Sayang beribu sayang, semuanya datang tidak sejalan dengan yang kuharapkan. Aku hanya bisa menyalahkan keadaan dan menangis sambil menyebut nama Vita Marissa. Aku tidak peduli orang berkata apa tentangku ketika melihatku seperti orang gila di pintu gerbang..
“kau harus bersabar, semua indah pada waktunya”. Lirik lagu itu kudengar sedang mengalun dari mobil box yang ikut meramaikan kejuaraan bulutangkis itu, mendorong semangatku kembali. Masih ada kesempatan esok hari. Aku mengusap air mataku dan melangkah menuju gedung olahraga nan megah tempat para atlet berlaga. Aku berdiri di pintu khusus atlet dan menunggu para atlet bulutangkis keluar. Namun tak satupun atlet yang kudapati, dan ternyata mereka telah pulang ke hotel. Aku sangat kecewa. Betapa sialnya aku hari itu.
Sambil membaca sms, dua orang kakak duduk di sebelahku dan mengajak berkenalan. Tujuan mereka sama denganku, yaitu menunggu para atlet datang. Mereka bernama Astin dan Ivan. Hampir semua atlet kebanggaan Indonesia yang juga ikut pada kejuaraan ini, telah mereka temui bahkan mendapat tanda tangan dan foto bersama dengan atlet. Mendengar cerita mereka saat bertemu dengan atlet, aku mendapatkan banyak pelajaran akan perlunya perjuangan dan pengorbanan untuk suatu impian. Kuliah dan praktikum mereka tinggalkan demi kejuaraan ini.
Pertandingan kelompok taruna dimulai, dan akupun tidak ingin ketinggalan untuk melihat aksi para generasi muda pebulutangkis Indonesia. Sementara permainan kian menarik dari pemain taruna, aku punya firasat Kak Vita sepertinya telah datang. Aku ingin keluar, tetapi aku selalu menunda-nunda. Selang beberapa waktu, tampak seorang yang mengenakan seragam pb.tangkas, tinggi dan tegap di antara beberapa panitia. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berteriak “kak vitaaaaaaaaaa”. Aku merasa semuanya adalah mimpi. Sulit untuk aku bayangkan pertama kali melihat Kak Vita, mataku berkaca-kaca menahan haru sambil melompat-lompat. Heboh sendiri di tengah seriusnya permainan di partai ganda putri taruna, menggambarkan bagaimana suasana hati yang kurasakan. Terbayar sudah perjuanganku selama ini.
Kak Lilyana juga muncul dari pintu panitia bersama kak Natalia. Tidak disangka semuanya bisa terjadi.
Kak Vita,Lilyana, dan atlet yang lain berada di depanku, namun beda tribun. Aku beranjak pergi mendekati kak Vita dimana dia duduk. Aku bergabung dengan anak kecil yang juga ingin mengambil gambar para atlet. Melihat Kak Vita dengan mata kepalaku sendiri dengan jarak 3 meter, tanganku hanya bisa bergetar, sayang pagar besi merah membatasi aku dengan idolaku itu. Aku terus memanggil Kak Vita yang sedang bercakap dengan Kak lilyana. Sesekali Kak Vita melirikku. Kak Lilyana juga.. hehheh. Senangnya. Dimana pun Kak Vita berada, di situlah pandanganku. Dengan penuh semangat aku mendukung pb.Tangkas. Utamanya pada saat Kak Lilyana/Nova bermain. Teriakan para penonton dengan yel-yel mereka menjadi saksi serunya pertandingan pada babak final itu. Serasa sedang berada di Istora. Kak Simon juga. Namun, PB. Tangkas kalah pada saat partai ganda putra sebagai penentu, PB. Djarumpun tampil sebagai juara.
Larut dalam kesenangan aku lupa akan waktu yang menunjukkan pukul 9 malam. Aku harus segera ke perwakilan untuk mengambil tiket ditemani oleh teman Franda. Sedang Franda ke rumah mengambil tasku. Aku harus pulang ke Toraja malam itu, karena besok harus masuk sekolah. Akhirnya satu tiket bus berhasil kudapatkan. Aku menyandarkan kepala ke kursi yang empuk melepaskan rasa lelah dan mengingat apa yang terjadi pada hari ini. Meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya itu nyata, dan bukan mimpi. Tidak berfoto, tanpa tanda tangan Vita Marissa bukan masalah bagiku. Yang terpenting adalah aku telah berusaha dan puas melihat sosok Vita dengan senyuman indahnya itu.
Terbawa bayang-bayang kebahagiaan hari itu, aku kemudian tertidur lelap dan menanti bus tiba di Toraja dan menceritakan kenangan indah ini kepada teman-teman.
Kini matahari berada pada genggamanku. Aku telah mengejarnya. Begitu banyak suka duka dalam perjalanan Mengejar Matahari untuk kujadikan patokan mewujudkan target hidup selanjutnya.
Sampai jumpa kak Vita di lain waktu..........
>>selvy christie lande'







0 komentar:
Post a Comment