Powered by Blogger.
RSS



Beautiful Mistake

Beautiful Mistake

Price: Rp. 47.000
ASK A QUESTION ABOUT THIS PRODUCT

Judul: Beautiful Mistake
Penulis: Sefryana Khairil & Prisca Primasari
Jumlah Halamanan: 268 hlm
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga: Rp47.000
ISBN: 979-780-539-5
Mencintaimu bukanlah sesuatu yang kuharapkan terjadi.
Aku tak ingin harapan datang lagi, berkunjung di hati, diam untuk beberapa waktu, lalu meninggalkanku dalam kesedihan berlipat-lipat.
Aku tahu pasti ini kesalahan yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Tapi kau hanya memelukku, tanpa suara. Menggenggam tanganku erat seolah tak ingin melepasnya lagi. Dan sebelum aku berhasil menyangkal cintamu lagi, aku menyadari kau meninggalkan sesuatu di tanganku. Sesuatu yang kukenali sebagai... harapan.
Dan kali ini, aku ingin menggenggamnya, memilikinya sekalipun seandainya itu salah.
*
BEAUTIFUL MISTAKE adalah Gagas Duet, novella dari dua penulis kebanggaan GagasMedia: Prisca Primasari dan Sefryana Khairil. Keduanya masing-masing mempersembahkan cerita cinta tentang pentingnya sebuah kesempatan kedua bagi mimpi dan cita-cita. Biarkanlah cinta yang menunjukkan arah bagi hatimu.
Sebelumnya, Prisca Primasari sudah pernah merilis Eclair: Pagi Terakhir di Rusia (2011), sedangkan karya-karya yang ditulis Sefryana Khairil antara lain adalah Dongeng Semusim (2009), Rindu(2010), dan Coming Home (2011).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Saat Senja Tak Lagi Sama
rain-over-meItulah kebiasaan yang kini selalu dilakukan Kim Hyu-Bin bersama Yuna, adik tirinya. Sebelum Yuna hadir dalam kehidupannya, Kim Hyu-Bin terkenal sebagai anak tampan yang suka sekali berkelahi. Hal itu terjadi setelah hubungannya dengan sang ayah kian merenggang sejak kematian sang ibu.

Kini, Kim Hyu-Bin bukan lagi orang yang sama seperti dulu. Ia lebih dewasa, lebih teratur, hidupnya pun lebih berwarna dan penuh tawa. Yuna, sang malaikat kecil, adalah jawaban dari semua itu.

Kehadiran Dirinya
Han Chae-Rin adalah nama wanita itu. Seorang perempuan yang bekerja di tempat yang sama dengan Kim Hyu-Bin. Menjengkelkan, tidak tahu terima kasih, dan sok adalah kesan pertama yang ditangkap Kim Hyu-Bin saat bertemu Han Chae-Rin.

Pertengkaran sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari bagi mereka. Masa lalu Han Chae-Rin memaksanya untuk membenci setiap orang kaya yang ada di hadapannya. Sayangnya, hal tersebut tidak berlaku bagi Kim Hyu-Bin. Han Chae-Rin memang suka bertengkar dengannya, tapi ia tidak membencinya. Bahkan Han Chae-Rin mencintainya.

Begitu pun dengan Kim Hyu-Bin. Kehadiran Han Chae-Rin ternyata mampu membuat emosinya bergejolak. Hubungan yang aneh di antara mereka perlahan mengubah perasaan Kim Hyu-Bin terhadap Yuna. Inikah cinta yang sebenarnya?

Rain Over Me karya Arini Putri merupakan kisah cinta yang pelik, namun menyenangkan untuk diikuti. Kehadiran seseorang nyatanya memang mampu mengubah hidup orang lain. Kebersamaan menimbulkan rasa ingin melindungi yang lebih dalam terhadap sesama. Namun, semua itu berbeda dengan cinta.
Novel yang diterbitkan GagasMedia ini tidak hanya mengajak kamu untuk menyaksikan cinta segitiga antara Kim Hyu-Bin, Yuna, dan Han Chae-Rin. Tetapi juga cinta lain yang bertepuk sebelah tangan. Keihklasan mungkin menjadi jalan bagi mereka yang cintanya tak berbalas. Meski demikian, yakinlah bahwa cinta lain sedang menunggu untuk menyapa kembali. Manis, romantis, dan menyentuh hati.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PERLING

Sesudah lama tak menjadi pelanggan kios persewaan buku di Blok A, baru belakangan aku tahu kios itu ternyata sudah tutup dan difungsikan sebagai rumah tinggal biasa. Akibatnya selama beberapa waktu aku tak pernah lagi secara rutin membaca buku dalam jumlah banyak.

Maka ketika kemudian Itok mengabarkan bahwa telah muncul mobil Perling alias Perpustakaan Keliling, rasa-rasanya dunia kembali tersenyum padaku. Perling singgah di perumahan Genuk Indah sekali sepekan pada hari Rabu pukul 15.30, dan biasa mangkal selama sejam di dekat kompleks TK Taman Indrya di Blok A, tak jauh dari bekas kios persewaan buku langgananku dulu.

Waktu kali pertama diajak Itok menunggu kemunculannya, aku sempat tercengang kagum begitu mobil Perling datang. Ini baru namanya perpustakaan, dan bukan sekadar persewaan buku! Pada masa itu, Perling menggunakan mobil Datsun pikap warna biru muda. Bagian bak belakangnya dibentuk menjadi kabin tempat buku-buku dipajang di satu sisi dan loket peminjaman pada sisi satunya lagi.

Aku juga kagum melihat koleksi bukunya. Bukan komik sembarangan seperti yang dipajang kios persewaan dulu itu, melainkan novel-novel tebal yang menurutku teramat sangat keren dan intelek. Sayang pas hari pertama itu aku belum bisa pinjam. Baru meminta formulir pendaftaran dulu, yang harus diisi dan ditandatangani ortu.

Minggu depannya pas formulir telah lengkap dan dikembalikan ke petugas Perling, barulah aku boleh mulai pinjam. Kartu anggota yang resmi sendiri baru akan diberikan seminggu lagi sesudahnya.

Maka sepekan itu berlalu penuh kegelisahan dan kegalauan. Mata batinku tak pernah henti membayangkan deretan buku-buku yang serba memukau itu. Aku tak sabar menanti datangnya Rabu. Kebetulan saat itu aku sudah kelas II, dan jadwal ekskul renang berpindah ke hari lain.

Ketika Rabu berikutnya benar-benar datang, aku ikut bergerombol bareng anak-anak lain menunggu kemunculan mobil Perling. Kami bersorak saat mobil itu datang, lalu bergerombol mengerumuninya, berebut paling duluan menuju rak buku. Meski agak telat memilih karena kalah cepat dari anak-anak yang sudah lama menjadi anggota, aku masih sempat meminjam beberapa novel yang kalau tak salah adalah novel petualangan dan detektif cilik karya Enid Blyton.

Hari-hariku sesudah itu penuh berisi novel. Dan era itu, sekitar tahun 1985-an, adalah masa keemasan novel-novel detektif dan petualangan terbitan Gramedia Pustaka Utama. Yang paling ngetop jelas karya-karya Enid Blyton, seperti Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, seri Petualangan, Sapta Siaga, dan juga seri Komplotan. Sedang dari dalam negeri ada Arswendo Atmowiloto dengan Imung, Dwiyanto Setyawan dengan Sersan Grung-grung dan Kelompok 2&1, serta Bung Smas dengan Noni.

Maka dari pekan ke pekan setiap kali Perling datang, buku-buku itulah yang aku pinjam. Itok juga. Dan Gotri belakangan juga ikut jadi member. Jadi tiap Rabu sore, kami pasti pulang dengan membaca setumpuk buku novel keren untuk dihabiskan hingga sepekan ke depan. Kalau satu orang pinjam tiga, maka tugas mingguan adalah membaca sembilan judul buku sekaligus! Sungguh suatu kegiatan remaja yang amat positip.

Bosan dengan novel anak-anak, aku ingin mencoba jenis lain. Itok menunjukkan satu judul yang sangat spektakuler, yaitu Misteri Bisikan Mumi, dari serial Trio Detektif karya sutradara legendaris Alfred Hitchcock (teks oleh Robert Arthur). Spontan aku bergidik. Di kovernya ada gambar mumi samar-samar.

“Wuah, serem amat...!” gumamku ketakutan.

“Iya. Kata anak-anak, ceritanya emang serem. Kadang ada mumi suka nongol beneran!” sahut Itok lebay.

“Gile! Jadi pinjem gak, nih?”

“Terserah!”

Terintimidasi judul novel, aku ragu meminjamnya hingga berminggu-minggu. Tiap Rabu paling hanya berani memegangi dan menimang-nimang, tapi lantas kembali kutaruh ke rak. Di mataku ketika itu, Misteri Bisikan Mumi sepertinya novel yang teramat sangat luar biasa menyeramkan tak tertanggungkan!

Setelah menyatukan visi, membulatkan tekad, dan memperkokoh ketakwaan, barulah aku berani meminjam novel itu. Hati cemas dan deg-degan sepanjang perjalanan pulang ke rumah dan apalagi pas hendak membukanya pertama kali. Betul-betul mirip satu momen milestone yang akan menentukan hidup matinya diriku.

Ternyata, setelah kubaca sampai jauh, Misteri Bisikan Mumi bukanlah cerita horor, melainkan misteri detektif biasa. Ada mumi seperti mengeluarkan suara bisikan. Tak tahunya itu trik penjahat untuk satu tujuan tertentu. Tokoh utamanya detektif seperti Lima Sekawan, hanya yang ini anak-anak remaja berusia 17 tahunan, yaitu Jupiter Jones, Pete Crenshaw, dan Bob Andrews. Sejak itu aku rajin meminjam seri Trio Detektif tanpa perlu ketakutan lagi!

Pada kesempatan lain, aku ingin baca novel dewasa karangan Agatha Christie. Namun tak langsung bisa pinjam. Bukan lagi karena takut tak jelas, melainkan karena ada anak yang dimarahi petugas Perling ketika akan pinjam novel Opera Jakarta-nya Titi Nginung.

“Nggak boleh pinjem ini!” kata sang petugas galak. “Ini novel orang dewasa. Anak-anak belum boleh baca ginian!”

“Lantas pinjam apa dong...?” tanya anak itu memelas.

“Apaan kek. Lima Sekawan atau Sersan Grung-grung, asal jangan yang ini! Balikin!”

Anak malang itu pun terpaksa keluar dari antrean untuk mengembalikan Opera Jakarta ke rak buku dengan langkah gontai tersendat.

Gara-gara ngeri bakal kena semprot serupa, aku menunda pinjam novel Agatha Christie sampai agak lama. Untung pas aku memberanikan diri meminjam itu (dan juga satu novel karangan Alistair MacLean berjudul Meriam Benteng Navarone), sang petugas sudah tak lagi mempedulikannya. Entah sudah sadar atau barangkali orangnya sudah ganti, hihi...!


created by Wiwien Wintarto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CALLED LOVE

Cie..cie.. sekarang yah, anak" tuh gak SMA,SMP,bahkan SD sekalipun udah tau' tuh yg namanya pacar-pacaran. Beda mah pas zaman mma' babe gue dulu, jiaahhh.. Jangankan pacaran, dekat2an ma cwo aja melu melu malluu . :D *yaiyalah. Namanya juga CINTA MONYET yaaqq *monyetpacaran?? Lol. Guys walaupun cinta-cintaan monyet aja, perlu loh tau' apa sih pacaran itu,cinta itu apa??.. Kata guru agama gue "jangan berani pacaran kalo gak tau' cinta itu apa"... Nah, disini ada sedikit postingan tentang C.I.N.T.A *gaya nyanyinya bagindas.. semoga bermanfaat deh buat teenagers.. hehehe... CHECK IT OUT !!

       Cinta merupakan suatu keputusan yang matang,bersifat abadi, artinya keduanya harus saling setia baik dalam suka maupun duka. 
       Cinta adalah anugerah Tuhan dan kasih adalah ajaran utama Tuhan Yesus Kristus. Bahkan Tuhan itu sendiri adalah kasih "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menurut perintah-Ku, kamu akan tinggal dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-KU dan tinggal di dalam Kasih-NYa". (Yoh.15:9-10). 

        Cinta itu bersifat emosional dan bersifat rasional. Yang Pertama, cinta emosional adalah cinta yang amat misterius, ia datang dan pergi bagai angin. as free as the wind blows. Cinta macam inilah yang banyak dibicarakan orang, ditulis penyair, digubah oleh komponis. Ketika ada orang yang mengatakn "Aku jatuh cinta dengannya pada pandangan pertama", atau "Cintaku bertepuk sebelah tangan", atau "Aku tak mau menikah dengannya karena aku tak mencintainya", sadar atau tidak kita telah mengacu pada cinta emosional ini. Ciri-ciri emosional adalah perasaan yang amat kuat wtwu instens, yg diarahkan kepada lawan jenis. Yang kedua, adalah cinta rasional. Cinta rasional itu didominasi oleh akal atau rasio. Cinta rasional ini biasanya terwujud dalam tindakan yang  didasari sepenuhnya, bukan hanya berdasarkan perasaan.


PACARAN
setelah memahami arti cinta, mari kita lihat alasan pacaran :
a. Mengenal sifat, kebiasaan dan corak kepribadian satu dengan yg lain. hal itu diperlukan agar kita menyadaro dan memahami kelebihan dan kelemahan yang ada pada pasangan masing-masing sebelum saling menerima.
b. Belajar bagaimana berhubungan dengan baik,belajar mengembangkan kemampuan berkomunikasi.
c. Melatih diri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pasangan dan mencari tahu tentang apa yang Tuhan kehendaki dari hubungan itu.
d. Belajar untuk membuka hati, berbagi perasaan dengan pasangannya sebagai latihan menghadapi permasalahan bersama-sama..
e. Untuk mencintai dan dicintai dengan belajar untuk saling memberi dan menerima.. 


 NO WRONG TO HAVE SPECIAL RELATIONSHIP, BUT HAVE LIMITATION
 be a good and faith adolescent...
:)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

my best journey

Mengejar  matahari

            Pukul 21.45 malam hari, aku baru saja menyelesaikan tugas bahasa inggris yang akan dikumpulkan besok. Lelah rasanya. Kurenggangkan otot-ototku kemudian berbaring di tempat tidur. Aku mengambil handphone kemudian membuka akun facebook. Kudapati satu pesan pada kotak masuk yang berisi;
“yonex-sunrise kejuaraan nasional PBSI 2010 akan digelar di Makassar tanggal 24-28 November 2010”...
“yeaahh”. Teriakku usai membaca pesan tesebut sambil bangun dan melompat-lompat.
            Ini adalah kesempatan emas dimana aku bisa bertemu dengan sang idolaku Vita Marissa, tidak akan kusia-siakan. Aku harus pergi menyaksikan kejuaraan ini. Langkah awal kulakukan untuk mewujudkan rencana itu dengan menyisihkan uang saku.  Sebelumnya aku mengumpulkan uang untuk bisa menonton Indonesian Open 2011 nanti. Tetapi tak perlu jauh-jauh ke Jakarta, Makassar pun aku bisa bertemu Vita pada kejuaraan nasional nanti.
            Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kejuaraan nasional sebentar lagi digelar yakni satu minggu lagi. Meraih impian tidak selamanya berjalan dengan mulus. Ada saja penghalang. Berbagai hal aku lakukan demi mendapat ijin dari orang tua untuk berangkat ke Makassar menyaksikan kejuaraan itu. Namun tetap saja mereka tidak memberi ijin  dengan alasan rencanaku ini tidak begitu penting, Mereka tidak bisa mengerti kalo bagiku ini sangat penting. Ditambah lagi dengan ulangan-ulangan harian di sekolah yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan. Sekarang aku harus memilih antara dua pilihan , tidak atau pergi. Jika aku pergi bagaimana dengan ulanganku.
Apakah aku akan mengikuti ulangan susulan sementara semester akhir  tinggal beberapa hari lagi?. tentu semuanya akan terlambat dengan alasan persiapan semester. Namun di lain hal, apakah usaha dan harapanku selama ini harus terhenti sampai di sini saja tanpa hasil?. Tentu tidak ada yang bisa membayar berjuta-juta penyesalan yang akan kurasakan nantinya”. Pikirku. Aku semakin bingung dengan semua ini.
            Kalender menunjukkan sekarang tanggal 24 November, Kejuaraan Nasional di Makassar akhirnya dimulai juga. Satu hari berlalu, aku pun belum mempunyai pilihan pasti. Pagi itu aku berangkat ke sekolah  diantar oleh bapak. Sebelum memasuki gerbang  sekolah, permintaan Ini terakhir aku sampaikan kepada papa . “ pa, nanti pulang dari kantor ambilkan tiket bus buat berangkat ke makassar ya. Harus!!”. Pintahku yang secara to the point aku lontarkan kepada bapak. Aku memasuki halaman sekolah dengan langkah tak tentu. Aku tak punya pilihan lagi. aku yakin bapak tidak mungkin mengijinkanku pergi. Selama proses pembelajaran berlangsung, pikiranku terus melayang membayangkan bagaimana serunya pertandingan, teman-teman yang sementara meminta foto bersama dan tanda tangan atlet. Huggghhhhh...Ingin rasanya berteriak sepuas-puasnya menuntaskan kekesalanku.
            Seperti biasa, setiap hari Jumat sebelum pulang diadakan ibadah di tiap-tiap kelas.. Sementara teman yang mendapat giliran berkhotbah, aku duduk di depan sambil melempar-lempar koin. Jika angka yang tepat berbalik ke depan pada telapak tanganku berarti aku tidak akan bisa menyaksikan kejuaraan itu, termasuk bertemu dengan Vita Marissa. Begitupun sebaliknya dengan lambang garuda. Angka yang selalu muncul membuatku risau. Namun teman-teman tetap memberiku dukungan untuk mengejar impianku itu.
Dan akhirnya Tuhan membukakan jalan bagiku. Dari luar kelas teman-teman tampak sangat senang  karena hari Sabtu besok siswa-siswa sekolah kami diliburkan sehubungan dengan upacara PGRI.    
“akhirnya”. Teriakku spontan saat ibadah tengah berlangsung.
 Perasaanku sudah legah dan tekadku bulat untuk pergi.  kesempatan yang tidak akan kusia-siakan. Namun yang menjadi masalah lagi, apakah bapak benar-benar akan mengambilkan tiket bus. Aku menunggu bapak pulang dari kantor dan memastikan tiket tersebut. Tak lama kemudian, bapak pulang dan menyuruhku berkemas. Sulit untuk percaya aku mendapat lampu hijau dari bapak untuk pergi, padahal ia tidak begitu mementingkan itu...
            Pukul 18.30 bus datang menjemputku untuk berangkat. Sesungguhnya aku sangat berat meninggalkan rumah, dimana mama sedang dalam keadaan sakit. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar semuanya akan baik-baik saja. Perasaan takut dan cemas kian menghampiriku dalam perjalanan, ini adalah kali pertama aku pergi tanpa ada yang menemani. Hanya bermodalkan kenekatan.
            Di saat semua penumpang bus tertidur, aku melawan ketakutan dengan memandangi bulan dari luar kaca dan membayangkan Vita adalah matahari yang malam belum terlihat namun tetap memantulkan sinar cahayanya terhadap bulan. Memang sekarang Vita belum ada di depan mataku, namun aku membayangkan saat-saat indah aku bertemu dengan Vita Marissa besok. “Huhhw.. pasti menyenangkan”. Kataku dalam hati.
“SUPER BADMINTON”. Kalimat itu menyambutku yang terpampang besar di atas pintu gerbang perbatasan Makassar dengan Maros . Dengan spontan aku tersenyum  dan tanganku mengepal. “yes”.. bisikku  tanda betapa senangnya aku. Di sepanjang jalan terdapat  jejeran umbul-umbul penyambutan kejuaraan ini di kota Makassar.
            Pagi itu aku sangat bersemangat menyambut hari Sabtu tanggal 27 November, hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Franda, kakakku menganjak untuk pergi menjenguk sepupu yang sedang sakit. Aku setuju-setuju saja karena menurut informasi yang aku dapat pertandingannya berlangsung sampai malam. Hari mulai senja, kami bergegas pulang untuk bersiap-siap menuju GOR Sudiang tempat kejuaraan Nasional digelar. Tiba-tiba seorang bertubuh tinggi besar dengan kaca mata minesnya berdiri di depan pintu pagar rumah. Ternyata Paman Rio yang datang. Dia adalah adik ipar mama. Paman mengajak bercerita seputar keadaan keluarga di Toraja. Tentu saja sangat membuatku gelisah. Seorang teman yang aku kenal di dunia maya mengirimkan pesan singkat yang berisi:
            “chel, kamu udah ada di GOR ? kak Vita lagi main tuh”
  Perasaanku mulai tidak tenang. Hatiku menggebu-gebu untuk segera pergi ke GOR dan bertemu dengan pujaanku, Vita. Aku memanggil Franda untuk segera berpamitan dengan paman, daripada usahaku selama ini sia-sia hanya karena paman. Hahahhaah.....
            Baru saja sampai di pintu gerbang, satu per satu orang beranjak  meninggalkan GOR . Mereka bilang pertandingan hari ini telah selesai. Aku tidak percaya. Bagaimana tidak, yang aku tahu pertandingannya berlangsung sampai malam, sementara ini baru pukul 16.30 . Aku mendapati seorang panitia dan dia mengatakan  hal yang sama. Sayang beribu sayang, semuanya datang tidak sejalan dengan yang kuharapkan. Aku hanya bisa menyalahkan keadaan dan menangis sambil menyebut nama Vita Marissa. Aku tidak peduli orang berkata apa tentangku ketika melihatku seperti orang gila di pintu gerbang..
            “kau harus bersabar, semua indah pada waktunya”.  Lirik lagu itu kudengar sedang mengalun  dari mobil box yang ikut meramaikan kejuaraan bulutangkis itu, mendorong semangatku kembali. Masih ada kesempatan esok hari. Aku mengusap air mataku dan melangkah menuju gedung olahraga nan megah tempat para atlet berlaga. Aku berdiri di pintu khusus atlet dan menunggu para atlet bulutangkis keluar. Namun tak satupun atlet yang kudapati, dan ternyata mereka telah pulang ke hotel. Aku sangat kecewa. Betapa sialnya aku hari itu.
            Tanggal 27 November, pertandingan final sekaligus merupakan hari terakhir dari kejuaraan nasional bulutangkis digelar. Seakan kekecewaan kemarin tidak ingin terulang untuk kedua kalinya, pukul 9 pagi aku dan Franda telah berangkat ke GOR sementara pertandingannya dimulai pukul satu siang. Pagi itu hujan gerimis tengah mengguyur kota Makassar, sementara itu aku sedang dalam perjalanan dengan tumpangan ojek. Pak ojek menghentikan motornya di sebuah kios dan mengenakan mantel. Franda lebih awal sampai sementara aku dengan keadaan basah menghampirinya di pintu tempat yang nantinya akan dilewati oleh atlet untuk masuk ke dalam GOR.  Disana masih tampak sepi, hanya ada beberapa orang.
            Sambil membaca sms, dua orang kakak duduk di sebelahku dan mengajak berkenalan. Tujuan mereka sama denganku, yaitu menunggu para atlet datang. Mereka bernama Astin dan Ivan. Hampir semua atlet kebanggaan Indonesia yang juga ikut pada kejuaraan ini, telah mereka temui bahkan mendapat tanda tangan dan foto bersama dengan atlet. Mendengar cerita mereka saat bertemu dengan atlet, aku mendapatkan banyak pelajaran akan perlunya perjuangan dan pengorbanan untuk suatu impian. Kuliah dan praktikum mereka tinggalkan demi kejuaraan ini.  
            Pertandingan kelompok  taruna  dimulai, dan akupun tidak ingin ketinggalan untuk melihat aksi para generasi muda pebulutangkis Indonesia. Sementara permainan kian menarik dari pemain taruna, aku punya firasat Kak Vita sepertinya telah datang. Aku ingin keluar, tetapi aku selalu menunda-nunda. Selang beberapa waktu, tampak seorang yang mengenakan seragam pb.tangkas, tinggi dan tegap di antara beberapa panitia. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berteriak “kak vitaaaaaaaaaa”. Aku merasa semuanya adalah mimpi. Sulit untuk aku bayangkan pertama kali melihat Kak Vita, mataku berkaca-kaca menahan haru sambil melompat-lompat. Heboh sendiri di tengah seriusnya permainan di partai ganda putri taruna, menggambarkan bagaimana suasana hati yang kurasakan. Terbayar sudah perjuanganku selama ini.
Kak Lilyana juga muncul dari pintu panitia bersama kak Natalia. Tidak disangka semuanya bisa terjadi.
Kak Vita,Lilyana, dan atlet yang lain berada di depanku, namun beda tribun. Aku beranjak pergi mendekati kak Vita dimana dia duduk. Aku bergabung dengan anak kecil yang juga ingin mengambil gambar para atlet. Melihat Kak Vita  dengan mata kepalaku sendiri dengan jarak 3 meter, tanganku hanya bisa bergetar, sayang pagar besi merah membatasi aku dengan idolaku itu. Aku terus memanggil Kak Vita yang sedang bercakap dengan Kak lilyana. Sesekali Kak Vita melirikku. Kak Lilyana juga.. hehheh. Senangnya. Dimana pun Kak Vita berada, di situlah pandanganku. Dengan penuh semangat aku mendukung pb.Tangkas. Utamanya pada saat Kak Lilyana/Nova bermain. Teriakan para penonton dengan yel-yel mereka menjadi saksi serunya pertandingan pada babak final itu. Serasa sedang berada di Istora. Kak Simon juga. Namun, PB. Tangkas kalah pada saat partai ganda putra sebagai penentu, PB. Djarumpun tampil sebagai juara.
Pada saat pemberian medali dilaksanakan, atlet-atlet berdatangan menuju podium dekatku duduk. Para penonton turun dan berlarian menuju ke depan podium. Tak mau kalah, aku melompat dari tribun dan mengambil tempat tepat di depan atlet berdiri. Aku berdesak-desakan dengan para penonton lainnya untuk mengambil gambar dan menyaksikan kebahagiaan para atlet menerima medali, seakan GOR Sudiang adalah studio foto. Setelah penyerahan medali, aku mengejar atlet menuju ke ruangan konferensi pers. Meskipun tidak dapat berfoto bersama, saya masih sempat bersalaman dengan beberapa atlet. Aku hanya bisa melihat kak Vita, Lilyana, dan pemain pb.tangkas yang lainnya dari bilik kaca ruangan.
 Larut dalam kesenangan aku lupa akan waktu yang menunjukkan pukul 9 malam. Aku harus segera ke perwakilan untuk mengambil tiket ditemani oleh teman Franda. Sedang Franda ke rumah mengambil tasku. Aku harus pulang ke Toraja malam itu, karena besok harus masuk sekolah. Akhirnya satu tiket bus berhasil kudapatkan. Aku  menyandarkan kepala ke kursi yang empuk melepaskan rasa lelah dan mengingat apa yang terjadi pada hari ini. Meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya itu nyata, dan bukan mimpi. Tidak berfoto, tanpa tanda tangan Vita Marissa bukan masalah bagiku. Yang terpenting adalah aku telah berusaha dan puas melihat sosok Vita dengan senyuman indahnya itu.
Terbawa bayang-bayang kebahagiaan hari itu, aku kemudian tertidur lelap dan menanti bus tiba di Toraja dan menceritakan kenangan indah ini kepada teman-teman.
Kini matahari berada pada genggamanku. Aku telah mengejarnya. Begitu banyak suka duka dalam perjalanan Mengejar Matahari untuk kujadikan patokan mewujudkan target hidup selanjutnya.
Sampai jumpa kak Vita di lain waktu..........


>>selvy christie lande'

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

I tell u

Success is a journey, not a destination.