Sesudah lama tak menjadi pelanggan kios persewaan buku di Blok A, baru belakangan aku tahu kios itu ternyata sudah tutup dan difungsikan sebagai rumah tinggal biasa. Akibatnya selama beberapa waktu aku tak pernah lagi secara rutin membaca buku dalam jumlah banyak.
Maka ketika kemudian Itok mengabarkan bahwa telah muncul mobil Perling alias Perpustakaan Keliling, rasa-rasanya dunia kembali tersenyum padaku. Perling singgah di perumahan Genuk Indah sekali sepekan pada hari Rabu pukul 15.30, dan biasa mangkal selama sejam di dekat kompleks TK Taman Indrya di Blok A, tak jauh dari bekas kios persewaan buku langgananku dulu.
Waktu kali pertama diajak Itok menunggu kemunculannya, aku sempat tercengang kagum begitu mobil Perling datang. Ini baru namanya perpustakaan, dan bukan sekadar persewaan buku! Pada masa itu, Perling menggunakan mobil Datsun pikap warna biru muda. Bagian bak belakangnya dibentuk menjadi kabin tempat buku-buku dipajang di satu sisi dan loket peminjaman pada sisi satunya lagi.
Aku juga kagum melihat koleksi bukunya. Bukan komik sembarangan seperti yang dipajang kios persewaan dulu itu, melainkan novel-novel tebal yang menurutku teramat sangat keren dan intelek. Sayang pas hari pertama itu aku belum bisa pinjam. Baru meminta formulir pendaftaran dulu, yang harus diisi dan ditandatangani ortu.
Minggu depannya pas formulir telah lengkap dan dikembalikan ke petugas Perling, barulah aku boleh mulai pinjam. Kartu anggota yang resmi sendiri baru akan diberikan seminggu lagi sesudahnya.
Maka sepekan itu berlalu penuh kegelisahan dan kegalauan. Mata batinku tak pernah henti membayangkan deretan buku-buku yang serba memukau itu. Aku tak sabar menanti datangnya Rabu. Kebetulan saat itu aku sudah kelas II, dan jadwal ekskul renang berpindah ke hari lain.
Ketika Rabu berikutnya benar-benar datang, aku ikut bergerombol bareng anak-anak lain menunggu kemunculan mobil Perling. Kami bersorak saat mobil itu datang, lalu bergerombol mengerumuninya, berebut paling duluan menuju rak buku. Meski agak telat memilih karena kalah cepat dari anak-anak yang sudah lama menjadi anggota, aku masih sempat meminjam beberapa novel yang kalau tak salah adalah novel petualangan dan detektif cilik karya Enid Blyton.
Hari-hariku sesudah itu penuh berisi novel. Dan era itu, sekitar tahun 1985-an, adalah masa keemasan novel-novel detektif dan petualangan terbitan Gramedia Pustaka Utama. Yang paling ngetop jelas karya-karya Enid Blyton, seperti Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, seri Petualangan, Sapta Siaga, dan juga seri Komplotan. Sedang dari dalam negeri ada Arswendo Atmowiloto dengan Imung, Dwiyanto Setyawan dengan Sersan Grung-grung dan Kelompok 2&1, serta Bung Smas dengan Noni.
Maka dari pekan ke pekan setiap kali Perling datang, buku-buku itulah yang aku pinjam. Itok juga. Dan Gotri belakangan juga ikut jadi member. Jadi tiap Rabu sore, kami pasti pulang dengan membaca setumpuk buku novel keren untuk dihabiskan hingga sepekan ke depan. Kalau satu orang pinjam tiga, maka tugas mingguan adalah membaca sembilan judul buku sekaligus! Sungguh suatu kegiatan remaja yang amat positip.
Bosan dengan novel anak-anak, aku ingin mencoba jenis lain. Itok menunjukkan satu judul yang sangat spektakuler, yaitu Misteri Bisikan Mumi, dari serial Trio Detektif karya sutradara legendaris Alfred Hitchcock (teks oleh Robert Arthur). Spontan aku bergidik. Di kovernya ada gambar mumi samar-samar.
“Wuah, serem amat...!” gumamku ketakutan.
“Iya. Kata anak-anak, ceritanya emang serem. Kadang ada mumi suka nongol beneran!” sahut Itok lebay.
“Gile! Jadi pinjem gak, nih?”
“Terserah!”
Terintimidasi judul novel, aku ragu meminjamnya hingga berminggu-minggu. Tiap Rabu paling hanya berani memegangi dan menimang-nimang, tapi lantas kembali kutaruh ke rak. Di mataku ketika itu, Misteri Bisikan Mumi sepertinya novel yang teramat sangat luar biasa menyeramkan tak tertanggungkan!
Setelah menyatukan visi, membulatkan tekad, dan memperkokoh ketakwaan, barulah aku berani meminjam novel itu. Hati cemas dan deg-degan sepanjang perjalanan pulang ke rumah dan apalagi pas hendak membukanya pertama kali. Betul-betul mirip satu momen milestone yang akan menentukan hidup matinya diriku.
Ternyata, setelah kubaca sampai jauh, Misteri Bisikan Mumi bukanlah cerita horor, melainkan misteri detektif biasa. Ada mumi seperti mengeluarkan suara bisikan. Tak tahunya itu trik penjahat untuk satu tujuan tertentu. Tokoh utamanya detektif seperti Lima Sekawan, hanya yang ini anak-anak remaja berusia 17 tahunan, yaitu Jupiter Jones, Pete Crenshaw, dan Bob Andrews. Sejak itu aku rajin meminjam seri Trio Detektif tanpa perlu ketakutan lagi!
Pada kesempatan lain, aku ingin baca novel dewasa karangan Agatha Christie. Namun tak langsung bisa pinjam. Bukan lagi karena takut tak jelas, melainkan karena ada anak yang dimarahi petugas Perling ketika akan pinjam novel Opera Jakarta-nya Titi Nginung.
“Nggak boleh pinjem ini!” kata sang petugas galak. “Ini novel orang dewasa. Anak-anak belum boleh baca ginian!”
“Lantas pinjam apa dong...?” tanya anak itu memelas.
“Apaan kek. Lima Sekawan atau Sersan Grung-grung, asal jangan yang ini! Balikin!”
Anak malang itu pun terpaksa keluar dari antrean untuk mengembalikan Opera Jakarta ke rak buku dengan langkah gontai tersendat.
Gara-gara ngeri bakal kena semprot serupa, aku menunda pinjam novel Agatha Christie sampai agak lama. Untung pas aku memberanikan diri meminjam itu (dan juga satu novel karangan Alistair MacLean berjudul Meriam Benteng Navarone), sang petugas sudah tak lagi mempedulikannya. Entah sudah sadar atau barangkali orangnya sudah ganti, hihi...!
created by Wiwien Wintarto
created by Wiwien Wintarto







0 komentar:
Post a Comment